Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Saturday, April 20, 2013

sekedar tahu saja

Beberapa hari terakhir ini, seorang bocah berumur 12 tahun menjadi sorotan berbagai media. Dia adalah Tasripin, warga Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas.

Anak sekecil itu terpaksa harus menggantikan peran ayah dan ibu untuk mengurus ketiga adiknya yang masih kecil, Riyanti (9), Dandi (7), dan Daryo (5). Ayah mereka harus bekerja ke sebuah perkebunan sawit di Kalimantan bersama kakak Tasripin sedangkan Ibu mereka meninggal dua tahun lalu dalam bencana longsor yang menimpa daerah mereka.

Sejak saat itu, Tasripin menjadi pengganti orangtua bagi adik-adiknya. Setiap hari, bocah yang sudah lama putus sekolah itu harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga mulai dari memasak, mencuci, dan mengurus keperluan rumah tangga lainnya. Ia juga harus memandikan dan menidurkan adik-adiknya jika malam tiba.

Tidak hanya itu saja, Tasripin harus menjadi buruh tani saat pagi hari untuk memenuhi kebutuhan ekonominya dan adik-adiknya.

“Kalau berangkat ke sawah jam 7 pagi dan pulang jam 12 siang. Kadang sehari dapet Rp 30 – 40 ribu sehari. Itu beli beras dan sayur. Sisanya untuk jajan adik,” katanya polos seperti dikutip oleh Detik.com, Kamis, 18 April 2013.

Agar kebutuhan harian mereka bisa tercukupi, Tasripin yang masih kecil itu harus bisa mengelola uang yang ia peroleh sebaik mungkin. Makanan yang ia konsumsi sehari-hari pun jauh dari standar gizi yang memadai. Karenanya, tak jarang mereka makan nasi dengan lauk kerupuk.

“Kadang saya beri lauk slobor (tumbuhan gunung) untuk adik-adik. Terus kalau adik rewel, saya kadang mendiamkan dengan cara membentak ringan atau memberi uang, itu kalau ada. Sementara kalau adik sakit, saya paling belikan obat puyer di warung,” cerita Tasripin lagi seperti dikutip oleh sumber lain, Okezone.com.

Kisah hidup Tasripin memang sangat mengharukan. Namun tentu saja Tasripin tidak sendiri sebab ada jutaan Tasripin lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia.

Menurut pengamatan Sosiolog Unsoed, Sulyana Dadan, kisah Tasrpin merupakan puncak gunung es kemiskinan yang ada di Banyumas.

“Masih banyak Tasripin lain di Banyumas,” katanya, Kamis, 18 April 2013 kepada Tempo.co.

Tasripin cukup ‘beruntung’ karena kisah hidupnya diangkat oleh media massa dan menjadi perhatian publik. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut memberikan simpatinya terhadap bocah kecil itu lewat situs mikroblogging, Twitter.

Menurut sosiolog itu lagi, fenomena Tasripin adalah bukti keterlambatan pemerintah daerah dalam menangani kasus kemiskinan di daerahnya. Untungnya masyarakat di tempat Tasripin tinggal masih memiliki rasa solidaritas yang sangat tinggi sehingga anak-anak kecil itu masih bisa bertahan hidup.

Foto Tasripin bersama adik-adiknya :

sekedar tahu saja

sekedar tahu saja

sekedar tahu saja

sekedar tahu saja

sekedar tahu saja

sekedar tahu saja

Video Tasripin :








Sumber

Renungan : Kisah Hidup Tasripin

Thursday, April 18, 2013

sekedar tahu saja

Pernahkah anda berpikir bakal memiliki tambal ban dengan omzet mencapai Rp 1 miliar dalam setiap tahunnya? Ini dia, pemuda asal Surabaya ini berhasil membuktikan hal itu.

Andri Firmansyah, merupakan pria lulusan Universitas Airlangga tahun 2008 mengawali bisnis tambal ban sejak 1,5 tahun lalu. Lalu apa yang bisa menjadikan pria berusia 30 tahun ini bisa mendapatkan omzet sebegitu besar? Ternyata bisnis tambal ban yang dijalaninya berbeda dengan bisnis tambal ban yang ada di pinggir-pinggir jalan.

Dengan berbekal kemampuan yang didapatkannya semasa di bangku kuliah dan ketekunannya mengikuti seminar-seminar tentang peluang usaha, ahirnya Andri menciptakan bisnis Tambal Ban Otomatis.

"Tambal ban otomatis ini simple, hanya menggunakan cairan yang kita isikan ke dalam ban motor ataupun ban mobil," ungkapnya, Kamis (18/4/2013).

"Cara kerjanya, roda itu kan saat kita jalan berputar, cairan ini nantinya secara otomatis akan menutup pori-pori dari karet ban tersebut, termasuk jika saat itu ada lubang akibat terkena paku atau semacamnya," tambah Andri.

Andri menjelaskan, cairan ini bukan cairan biasa, melainkan berbentuk cairan kimia yang di dapatkannya dari kerjasama dengan salah satu Pabrik Kimia di wilayah Jawa Tengah.

Cairan tambal ban otomatis ini jika sudah di masukkan ke dalam roda, akan mampu bertahan untuk mencegah kebocoran ban hingga 1,5 tahun lamanya.

Untuk pemakaian pada motor, cairan itu cukup di masukkan ke dalam ban sebanyak 150-200 mililiter (ml) , sedangkan untuk mobil sebanyak 500 ml.

"Sedangkan cara pemakaiannya, terlebih dahulu ban itu dikempesin, kemudian cairan dimasukkan melalui lubang pentil, selanjutnya dipompa kembali, dan sudah siap digunakan,hanya seperti itu,"jelas pria yang pernah mendapatkan penghargaan dari Wirausaha Mandiri, Pemenang di Bidang Jasa dan Perdagangan tahun 2012 lalu itu.

Mengenai pemasarannya, saat ini produk yang dinamakan Vionseal ini sudah dijual di 30 dealer yang tersebar di kota-kota besar di Pulau Jawa.

"Saat ini produk sudah ada di 30 dealer yang sudah kerjasama dengan saya, yang tersebar di kota-kota besar di pulau jawa, cairan itu dijual 70 ribu per kemasan,"tutur Ardi.

Ardi mengungkapkan bisnis ini terinspirasi saat dia makan di sebuah rumah makan di salah satu Mal di Surabaya, dan dia melihat sebuah parkiran motor yang penuh dengan motor.

"Awalnya saya itu makan di sebuah mal di sini (Surabaya), lalu saya melihat di tepi jalan itu parkiran motor penuh banget daripada parkiran mobilnya, di situ saya mulai berpikir bisnis apa yang berhubungan dengan motor dan tidak membutuhkan waktu lama dalam memperoleh untungnya,"critanya.

"Kalau bisnis jual helm, helm itu rata-rata baru bener-bener rusak setelah tiga tahun, jadi lama, lalu saya terus berpikir, akhirnya sampe rumah saya browshing internet, akhirnya ketemu lah tambal otomatis ini. Jadi tambal ban otomatis ini sebenarnya sudah ada di luar negeri,"imbuh Adri.

Mengenai pesaing bisnisnya untuk di Indonesia sendiri, saat ini sudah ada 3 hingga 4 merek yang menjual pruduk dengan tipe yang sama, namun Andri menilai semua itu masih kurang dalam segi pemasarannya.

"Saat ini ada tiga, empat merek lah yang jadi pesaing, tapi menurut saya mereka masih kurang dalam pemasarannya,"ungkapnya.

Andri memululai bisnis ini dengan modal Rp 500 juta yang diperolehnya jadi usaha penjualan Ikan nya. Dan hingga saat ini yang masih menjadikannya kendala adalah pola pikir masyarakat indonesia itu sendiri.

"Saya dulu modal Rp 500 juta dari sebelumnya saya dapatkan dana itu dari bisnis jualan ikan saya. Untuk kendala pemasarannya saat ini ya pola pikir orang kita sendiri. Mereka berfikir kalau belum bannya bocor, mereka belum bisa berpikir tentang antisipasi,"tegas Andri.

"Jadi lihat saja, kalau orang yang bertemu saya hari ini pasti tidak akan langsung beli, tapi suatu saat kalau pas di jalan bannya bocor, baru keinget saya,"terangnya.

Untuk menguji ketahanan dari produknya ini, pada akhir tahun 2011 lalu Andri telah melakukan uji coba 125 motor jalan di atas paku, dan acara ini telah masuk dalam rekor MURI.

Sumber

Inspirasi : Kisah Sukses Pengusaha Tambal Ban Beromzet Rp 1 Miliar

Monday, April 1, 2013

sekedar tahu saja

Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan , tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.

“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya.. Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya …

Sumber

Renungan : Sebuah Penyesalan Yang Terlambat

Sunday, March 10, 2013


1. Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun - dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya.

2. Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar.

3. Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret.

4. Ayah selalu tepat janji! Dia akan memegang janjinya untuk membantu seorang teman, meskipun ajakanmu untuk pergi sebenarnya lebih menyenangkan.

5. Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain dengan teman-teman mereka.karena dia sadar itu adalah akhir masa kecil mereka.

6. Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil (mengandungmu) , tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi.

7. Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti berenang di air setelah ia melepaskanya.

8. Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya.

9. Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak baik dan menyayangi.

10. Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup

11. Ayah benar-benar senang membantu seseorang...tapi ia sukar meminta bantuan.

12. Ayah di dapur. Membuat memasak seperti penjelajahan ilmiah. Dia punya rumus-rumus dan formula racikannya sendiri, dan hanya dia sendiri yang mengerti bagaimana menyelesaikan persamaan-persamaan rumit itu. Dan hasilnya?... .mmmmhhh..."tidak terlalu mengecewakan" ^_~

13. Ayah mungkin tidak pernah menyentuh sapu ketika masih muda, tapi ia bisa belajar dengan cepat.

14. Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untuk membuatmu senang tapi tidak takut.

15. Ayah akan sangat senang membelikanmu makanan selepas ia pulang kerja, walaupun dia tak dapat sedikitpun bagian dari makanan itu

16. Ayah selalu berdoa agar kita menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat, walaupun kita jarang bahkan jarang sekali mendoakannya

17. Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan mengangkatmu dibahunya, ketika pawai lewat.

18. Ayah tidak akan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi ia tidak akan tidur semalaman. Siapa tahu kamu membutuhkannya.

19. Ayah menganggap orang itu harus berdiri sendiri, jadi dia tidak mau memberitahumu apa yang harus kamu lakukan, tapi ia akan menyatakan rasa tidak setujunya.

20. Ayah percaya orang harus tepat waktu. karena itu dia selalu lebih awal menunggumu.

22. Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa memberikan apa yang kamu butuhkan.....

23. Ia menghentikan apa saja yang sedang dikerjakannya, kalau kamu ingin bicara...

24. Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar spp mu tiap semester, meskipun kamu tidak pernah membantunya menghitung berapa banyak kerutan di dahinya....

25. Ayah mengangkat beban berat dari bahumu dengan merengkuhkan tangannya disekeliling beban itu....

26. Ayah akan berkata ,, tanyakan saja pada ibumu" Ketika ia ingin berkata ,,tidak"

27. Ayah tidak pernah marah, tetapi mukanya akan sangat merah padam ketika anak gadisnya menginap di rumah teman tanpa izin

28. Dan diapun hampir tidak pernah marah, kecuali ketika anak lelakinya kepergok menghisap rokok dikamar mandi.

29. Ayah mengatakan ,, tidak apa-apa mengambil sedikit resiko asal kamu sanggup kehilangan apa yang kamu harapkan"

30. Pujian terbaik bagi seorang ayah adalah ketika dia melihatmu melakukan sesuatu hal yang baik persis seperti caranya....

31. Ayah lebih bangga pada prestasimu, daripada prestasinya sendiri....

32. Ayah hanya akan menyalamimu ketika pertama kali kamu pergi merantau meningalkan rumah, karena kalau dia sampai memeluk mungkin ia tidak akan pernah bisa melepaskannya.

33. Ayah tidak suka meneteskan air mata .... ketika kamu lahir dan dia mendengar kamu menangis untuk pertama kalinya,dia sangat senang sampai-sampai keluar air dari matanya (ssst..tapi sekali lagi ini bukan menangis)

34. ketika kamu masih kecil, ia bisa memelukmu untuk mengusir rasa takutmu...ketika kau mimpi akan dibunuh monster...

35. tapi.....ternyata dia bisa menangis dan tidak bisa tidur sepanjang malam, ketika anak gadis kesayangannya di rantau tak memberi kabar selama hampir satu bulan.

36. Ayah pernah berkata :" kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkwalitas tinggi, janganlah mencarinya dipasar apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besinya. begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu, jika kau ingin mendaptkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya"

37. Untuk masa depan anak lelakinya Ayah berpesan: ,, jadilah lebih kuat dan tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari ibumu , berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu"

38. Dan Untuk masa depan anak gadisnya ayah berpesan :" jangan cengeng meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak! laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau gantikan posisi Ayah di hatimu"

39. Ayah bersikeras, bahwa anak-anakmu kelak harus bersikap lebih baik daripada kamu dulu....

40. Ayah bisa membuatmu percaya diri... karena ia percaya padamu...

41. Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba melakukan yang terbaik....

42. Dan terpenting adalah... Ayah tidak pernah menghalangimu untuk mencintai Tuhan, bahkan dia akan membentangkan seribu jalan agar kau dapat menggapai cintaNya, karena diapun mencintaimu karena cintaNya.

Sumber

42 Fakta Tentang Seorang Ayah yang Harus Kamu Tahu

Hmm, kalo mendengar kata pemulung, apa aja sih hal pertama yang terlintas di pikiran kamu? Dekil? Bau? Kotor? Jorok? Apalagi?

Ya, tentu sudah sewajarnya kamu berpikir begitu. Itu hal yang wajar. Tapi setelah kamu membaca tulisan ini kamu bakal terhenyak kaget. Semua yang ada di piiranmu soal pemulung akan terbantahkan begitu mendengar kisah tentang pemulung yang satu ini. Wahyudin namanya, seorang pemuda berusia 21 tahun yang memilih untuk menjadi pemulung sejak berusia kanak-kanak dikarenakan kondisi keuangan keluarganya. Yang membuat hal ini menjadi heboh adalah bahwa ternyata Wahyudin memiliki paras yang cukuptampan untuk ukuran seorang pemulung. Penampilannya di kala memulung pun selalu rapi dan enak dilihat. Tak heran ia menjadi sosok primadona yang selalu ditunggu dan dipuja-puja para Pembantu Rumah Tangga dan anak-anak gadis di komplek Taman Laguna Bekasi, tempat Wahyudin biasa memulung sampah.


“Ada cerita lucu. Setiap waktu dia suka mengambil sampah di komplek Laguna selalu digodain sama pembantu-pembantu muda,” ujar salah satu pemilik rumah tempat Wahyudin memulung sampah, Elma Sungkar (42).

Elma menceritakan, Wahyudin yang selalu diteriaki ‘Ganteng-ganteng’, sampai-sampai mendapat julukan ‘Mas Ganteng’.

“Dia sampai dibilang mas-mas ganteng. Abis mukanya mirip artis, siapa yang sangka kalau dia pemulung,” ujarnya.

Menurutnya Wahyudin merupakan salah seorang pemuda yang inspiratif bagi remaja-remaja di kawasan tempat tinggal. Selain ganteng, menurutnya perilaku Wahyudin juga sopan dan santun.

“Untuk standar sebagai pemulung kan dia di atas rata-rata. Bersih, santun, orang nggak bakal nyangka. Dia itu inspiratif banget, banyak orang yang perhatian dengan dirinya,” kata Elma.

Wahyudin memutuskan untuk memulung sejak kelas 4 SD. Hal inni dikarenakan ia takut akan kelangsungan masa depannya mengingat keterbatasan orang tuanya. Ayahnya adalah seorang petani penggarap biasa. Namun hal ini tak lantas membuatnya berputus asa.

“Awalnya ketika saya kelas 4 SD, saya mulai merasa tidak mungkin bisa sekolah sampai SMP,” ujar Wahyudin.

Wahyu, terlahir dari ayah berputra 5 yang berpoligami, Mija (60) dengan Fatmawati (38), yang menjadi istri kedua, pada 12 Desember 1991 di Bekasi. Wahyu adalah sulung dari 3 bersaudara. Ayah dan ibu Wahyu adalah petani yang menggarap lahan kosong milik orang lain. Dengan kondisi itu, orang tuanya sibuk memenuhi kebutuhan perut Wahyu dan saudara-saudaranya. Sekolah pun tidak menjadi prioritas.

Saat kelas 4 SD itu Wahyu mulai khawatir tidak bisa sekolah. Ketika itu ia pun mulai menabung uang jajannya agar bisa sekolah.

Begitu memasuki bangku SMA, Wahyudin lantas berinisiatif mengirimkan proposal untuk Tuhan. Demi mewujudkan impiannya untuk melanjutkan studi ke jenjang S-1. Ia percaya bahwa Tuhan akan mengubah nasib siapapun yang mau berikhtiar dan berdoa. Menurutnya pemulung bukanlah pekerjaan hina. Dan dia ingin menunjukkan bahwa pemulung bisa berpendidikan tinggi.

Rencana masa depannya untuk kuliah ia tuangkan dalam bentuk tulisan dan gambar. Kemudian tulisan dan gambar itu dipajang di kamarnya. Dia memperhitungkan untuk mendapat biaya masuk kuliah harus mengeluarkan uang Rp 7 juta. Sementara tabungan yang ia miliki hanya Rp 2 juta.

“Artinya saya harus kumpulkan 3 truk sampah. Di situ saya gambar dan saya tulis, saya tujukan kepada Allah. Saya yakin kalau proposal saya dikabulkan oleh Allah pasti saya bisa kuliah,” imbuhnya.

Wahyu pun berikhtiar hingga akhirnya, tak sampai 3 tahun, dia bisa berkuliah tahun itu juga. Ada beberapa orang yang bersimpati kepada Wahyu sampai akhirnya bersedia membantu biaya kuliahnya.

“Pas itu ada beberapa tetangga saya yang dermawan, mereka membantu saya untuk bisa kuliah. Karena kaget saya diberi bantuan saya langsung teriak-teriak ke ibu saya, ‘Emak, Wahyu bisa kuliah’,” ujar Wahyu.

Sampai akhirnya ketika kuliah dia masih terus melanjutkan profesi memulung. Dia memilih kuliah di Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA (Uhamka) di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

“Saya udah nggak kepikiran kampus mana, karena tahun ajaran kuliah sudah mau ditutup. Jadi saya pilih di Uhamka jurusan akuntansi Fakultas Ekonomi karena sudah gelombang terakhir juga,” paparnya.

Hasil memulung antara Rp 30 ribu-Rp 50 ribu per hari, plus menjual gorengan cukup membantu Wahyu untuk kuliah. Ditambah, dia mendapatkan beasiswa dari kampusnya dan Disdik DKI. Ada pula kerabat yang bersimpati dan membantu biaya kuliahnya. Tak hanya biaya kuliah, Wahyu terkadang juga dikasih barang-barang seperti gadget hingga jam tangan. Tak heran, penampilan Wahyu tampak necis.

Terkadang Wahyu juga menyisihkan uangnya membantu menopang hidup keluarga. Kini, Wahyu sudah berhasil melalui sidang skripsi yang berjudul “Pengaruh Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah, Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Bekasi’. Rencananya ia akan diwisuda pada bulan Desember 2013.




Luar biasa inspiratif kisah dari Wahyudin si pemulung berparas ganteng ini. Dia berhasil membuktikan kepada semua pihak yang selama ini meragukannya bahwa dengan kekuatan doa dan usaha ditambah keyakinan terhadap Allah maka dia mampu mewujudkan impian dan cita-citanya.

Lalu bagaimana dengan kita yang terlahir dari keluarga yang berkecukupan, tidak tergugahkah oleh kisah inspiratif Wahyudin si Pemulung Ganteng ini? Sekian dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua sebagai motivator untuk kita terus berjuang, berdoa dan berusaha dalam mewujudkan mimpi dan cita-cita kita.

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”
(Q.S Ar-Ra’d : 11)

“Man Jadda Wa Jada” yang artinya “Barangsiapa bersungguh-sungguh pasti akan berhasil!”
(peribahasa Arab)

“Dan bila kamu menginginkan sesuatu, semua unsur semesta akan berkonspirasi membantumu untuk mewujudkannya,”
(kutipan novel The Alchemist karya sastrawan Paoelo Coelho).

Sumber

Inspirasi : Wahyudin si Pemulung Ganteng

Monday, March 4, 2013


Semua pasti tau siapa gambar di atas. yup itu (katanya sih) foto RA Kartini, maklum ga pernah ketemu langsung jadi saya katakan katanya. dan kenapa saya dengan yakinnya menggunakan katanya dan tidak seakan-akan menerima begitu saja? mari kita simak tulisan selanjutnya...

21 April dikenal sebagai hari Kartini, dimana masyarakat Indonesia menganggap beliau merupakan seorang perempuan yang patut dihargai jasanya dan beliau dijadikan sebagai pahlawan nasional. tapi memangnya apa yang sudah beliau lakukan?

kita lihat ke belakang. dari berbagai sumber di internet semua seragam mengatakan bahwa Raden Ajeng Kartini katanya lahir tanggal 21 April 1879 dan meninggal tanggal 17 September 190 4

coba sekarang kita lihat Cut Nyak Dhien yang lahir lebih dahulu dari kartini yakni tahun 1848. kenapa bukan hari cut nyak dien?

kalo kita lihat lagi, apa sih yang dilakukan Kartini?
dikisahkan Kartini katanya seorang perempuan yang surat-suratan dengan temannya di belanda, lalu buah pemikirannya dibukukan lalu diterbitkan.

bandingkan dengan cut nyak dhien yang secara nyata terlihat ikut dalam berperang bakan menjadi 'woman of the match'.

pertanyaannya, apakah sura-menyurat yg dilakukan kartini secara nyata terbukti seperti perang yg dilakukan cut nyak dhien?

dari sumber manapun dikatakan bahwa setelah kartini meninggal, seorang belanda bernama Abendanon lantas menemukan berkas surat-surat yang dikirimkan. saya tidak akan membahas panjang lebar tentang kontroversi ini karena sebenarnya sudah dibahas di thread lain. coba search saja 'kartini' di kaskus nanti akan muncul. di wikipedia pun ada. tidak seru kalo membahas hal yang sudah ada. saya di sini akan membahas hal lain yg blm ada di kaskus dan akan mencengangkan kita semua(mungkin)

pokoknya pada intinya surat-surat itu diragukan isinya karena tidak pernah ada yg melihat secara asli tulisan kartini.

saya hanya ingin menambahkan. bahkan yang lebih jelasnya lagi, secara frontal saya mendengar seorang ahli ilmu sosial dari Universitas Indonesia mengatakan "Kenapa seorang wanita putus asa, curhat-curhatan lantas curhatannya dibukukan?" kenapa dikatakan putus asa? coba bayangkan kita kalo surat-menyurat ttg suatu masalah, atau bisa disebut curhat, bukankah nampak seperti ada masalah namun tidak bisa fight dalam menanganinya namun hanya sekedar mencurahkan kegalauan kita kedalam kertas. apakah pantas disebut pahlawan? bukankah seharusnya bisa dikatakan pahlawan kalau muncul dan memberantas masalah secara riil? kalau begitu pak SBY curhat-curhatan saja dengan siapa saja lalu nanti dibukukan, jadilah pak SBY pahlawan nasional namun masalah2 di indonesia tidak terselesaikan karena haanya dicurahkan ke dalam kertas.

sekarang kita bahas hal lain lagi. kalau kalian search kata 'kartini' di kaskus juga akan muncul thread tentang keberadaan jalan kartini di belanda.

nah apa kalian tidak curiga?

sekarang kita balik jauh ke belakang lagi. 350 tahun lamanya (kira-kira) indonesia dijajah belanda. lantas sekarang pertanyaannya. Apakah dengan waktu 350 tahun menjajah lantas efek penjajahan akan musnah begitu saja saat indonesia merdeka?

seorang pakar ilmu sosial (lupa siapa, dan kalo ga salah dari Universitas Indonesia) mengatakan ada suatu hal yang aneh dari kejadian ini.
dengan menjajah Indonesia lalu apakah seorang yang menjajah akan dengan bangga mengungumkan kepada publik betapa hebatnya musuhnya? terbukti Abendanon dari berbagai sumber dikatakan mempublish buku tulisa-tulisan kartini pada tahun 1911, masih dalam ma sa jajahan belanda. apakah tidak aneh?

setelah ditelusuri lagi, ternyata ada hal aneh lain yang ditemukan yg masih erat kaitannya dengan hari kartini, yaitu Budi Utomo atau yg diperingati sebagai hari kebangkitan nasional.
awalnya kita semua tidak mungkin curiga karena memang budi utomo adalah salah satu pelopor. Namun ternyata setelah dikaji ulang ternyata berdirinya Budi Utomo didalangi oleh Belanda juga. bahasa pengantarnya pun memakai bahasa belanda. apakah pantas dijadikan hari kebangkitan nasional?

dari semua paparan di atas ada fakta yg mengejutkan, bahwa ternyata yang namanya hari Kartini dan hari kebangkitan nasional semua adalah gembar gembor dari Belanda!

jika dilihat lagi dari lamanya penjajahan, tidak mungkin selama 350 tahun belanda tidak meninggalkan hal buruk kepada kita. dan ternyata terbukti dari adanya hari Kartini dan hari Kebangkitan nasional. kenapa dikatakn ini adalah bekas buruk?

secara mat a masyarakat hari kartini dipandang baik karena meninggikan derajat wanita, dan hari kebangkitan nasional sebagai kebangkitan bangsa kita. sudah hanya itu saja. lalu dengan ada nya perayaan seakan menjadi heboh dan menjadi tenggelam terhadap perayaan itu. nah itu maslaahnya. Belanda dinilai ingin menyembunyikan fakta lain (sejarah). nah cara untuk menutup-nutupi sejarah itu dengan dihebohkannya indonesia dengan hari kartini dan hari kebangkitan nasional.

tapi apakah penutupan fakta/sejarah sebegitu penting?

sekarang saya tanya kalian, kalian tau nama kalian kan? tau darimana? trs tau arti nama itu?

itu semua identitas dan kita semua tau kalo kita liat ke belakang, dari akte kelahiran dll. nah dengan melihar kebelakang berarti melihat ke sejarah hidup kita. dengan kata lain untuk mengetahui identitas kita, kita harus melihat sejarah.

dengan kata lain, belanda di sini mencoba untuk menutupi sejarah kita sehingga kita masy arakat indonesia kehilangan identitas sehingga kehilangan arah. dan usaha itu bisa kita lihat berhasil. coba mau dibawa kemana arah dari negara kita oleh negara? semua punya ego masing-masing yang berbeda, semua itu karena kita semua tidak tau identitas kita, kesamaan kita semua sebagai masyarakat Indonesia. Identitas bersama.

kalau kalian tau, hampir seluruh arsip sejarah/sumber sejarah indonesia itu dari belanda. kenapa? karena belanda sejak dulu sudah paham arti penting dari sejarah sehingga perjalanan waktu belanda datang di indonesia didokumentasi lengkap sehingga memiliki data, berbeda dengan indonesia, yang malah sekarang banyak masalah dengan anggaran dana perawatan museum, perawatan gedung-gedung arsip, dll...

seakan-akan kita sangat tidak peduli lagi dengan sejarah kita. sama juga halnya seperti pelajaran sejarah di sekolah, hanya dipandang sebelah mata. dan kalau kalian lihat di internet banyak sekali kontroversi tentang sejarah , itu semua tidak lain karena kita kurang peduli dengan sejarah, kita hanya meng-Amin-kan sejarah yang sudah ada tanpa mempertanyakan kebenaran, padahal dengan arsip sejarah indonesia ada di belanda akan sangat mencurigakan, jangan-jangan yg diceritakan tidak sesuai, mengingat mereka adalah penjajah kita dulu dan tidak mungkin seorang penjajah akan menurunkan derajat mereka sebagai penjajah

jujur saya akui saya saat sekolah tidak suka dengan pelajaran sejarah. skrg saya kuliah dan dapat pemahaman ini lalu saya merasa sangat menyesal.

pesan saya hanya satu, pelajari sejarah. pelajari bukan hanya sekedar tahu, tapi paham. dan dikaji. kalau semua masyarakat tau betapa pentingnya sejarah sebagai sumber identitas bangsa, insya Allah yang namanya konflik bisa tidak ada, program kerja pemerintahan lebih terarah.

semoga saja ke depannya lebih baik. AMin

Sumber

Fakta yang Tersembunyi Tentang Hari Kartini

Monday, February 11, 2013


Seorang ayah membeli beberapa gulung kertas kado. Putrinya yang masih kecil, masih balita , meminta satu gulung.

"Untuk apa?" tanya sang ayah. "Untuk kado, mau kasih hadiah." jawab si kecil. "Jangan dibuang-buang ya!" pesan si ayah, sambil memberikan satu gulungan kecil.

Pagi-pagi si cilik sudah bangun dan membangunkan ayahnya,

"Pa, Pa... Ada hadiah untuk Papa."

Sang ayah yang masih malas-malasan, matanya pun belum melek, menjawab , "Sudahlah nanti saja ."

Tetapi si kecil pantang menyerah, "Pa, Pa, bangun Pa sudah siang."

"Ah, kamu gimana sih? Pagi-pagi sudah bangunin papa." Ia mengenali kertas kado yang pernah ia berikan kepada anaknya.

"Hadiah apa nih?" tanya si ayah.

"Hadiah untuk Papa. Buka dong Pa, buka sekarang." jawab si kecil.

Dan sang ayah pun membuka bingkisan itu . Ternyata di dalamnya hanya sebuah kotak KOSONG. Tidak berisi apa pun juga.

"Ah, kamu bisa saja . Bingkisannya kok kosong. Buang-buang kertas kado Papa. Kan mahal?"

Si kecil menjawab , "Nggak Pa, nggak kosong. Tadi, Putri masukin begitu buaanyaak ciuman untuk Papa."

Sang ayah terharu, ia mengangkat anaknya. Dipeluknya, diciumnya.

"Putri, Papa belum pernah menerima hadiah seindah ini. Papa akan selalu menyimpan boks ini. Papa akan bawa ke kantor dan sekali-sekali kalau perlu ciuman Putri, Papa akan mengambil satu . Nanti kalau kosong, diisi lagi ya!"

Boks kosong yang sesaat sebelumnya dianggap tidak berisi, tidak memiliki nilai apapun, tiba- tiba terisi , tiba-tiba memiliki nilai yang begitu tinggi. Lalu, kendati kotak itu memiliki nilai yang sangat tinggi di mata sang ayah, di mata orang lain tetap juga tidak memiliki nilai apapun. Orang lain akan tetap menganggapnya kotak kosong.

Kosong bagi seseorang bisa dianggap penuh oleh orang lain. Sebaliknya, penuh bagi seseorang bisa dianggap kosong oleh orang lain.

Kosong dan penuh, dua-duanya merupakan produk dari "pikiran" kita .

Sebagaimana kita memandangi hidup, demikianlah kehidupan kita .

Hidup menjadi berarti, bermakna, karena kita memberikan arti kepadanya, memberikan makna kepadanya. Bagi mereka yang tidak memberikan makna, tidak memberikan arti, maka hidup ini ibarat lembaran kertas yang kosong.

Sumber

Inspirasi : Kado Untuk Ayah

Thursday, January 17, 2013


Saat Stephen R. Covey mengajar tentang Manajemen Stress, dia bertanya kepada para peserta kuliah, “Menurut anda, kira-kira berapa berat segelas air ini?” Jawaban para peserta sangat beragam, mulai dari 200 gram sampai 500 gram.

“Sesungguhnya yang menjadi masalah bukanlah berat absolutnya. Tetapi berapa lama anda memegangnya,” ungkap Covey.

“Jika saya memegangnya selama satu menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama satu jam, lengan kanan saya akan sakit. Jika saya memegangnya selama satu hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya,” lanjutnya.

“Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat. Jika kita membawa beban terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu terasa meningkat beratnya,” ungkap Covey.

”Yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut. Istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi. Kita harus meninggalkan beban kita, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sehari-hari, tinggalkan beban pekerjaan anda. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok,” lanjutnya.

“Apapun beban yang ada di pundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak. Setelah beristirahat, nanti dapat diambil lagi. Hidup ini sangat singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya. Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di dalam hati kita,” kata Covey.

Sumber

INSPIRASI : Berat Segelas Air

Friday, December 14, 2012


... JANGAN PERNAH MALU JADI ORANG 'ANEH' ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... “Dunia memang aneh”, Gumam Pak Ustadz.

“Apanya yang aneh Pak?” Tanya Penulis yang fakir ini..

“Tidakkah antum (kamu/anda) perhatikan di sekeliling antum, bahwa dunia menjadi terbolak-balik, tuntunan jadi tontonan, tontonan jadi tuntunan,sesuatu yang wajar dan seharusnya dipergunjingkan, sementara perilakumenyimpang dan kurang ajar malah menjadi pemandangan biasa”

“Coba antum rasakan sendiri, nanti Maghrib, antum ke masjid, kenakan pakaian yang paling bagus yang antum miliki, pakai minyak wangi, pakai sorban, lalu antum berjalan kemari, nanti antum ceritakan apa yang antum alami” Kata Pak Ustadz.

Tanpa banyak tanya, penulis melakukan apa yang diperintahkan Pak Ustadz,menjelang maghrib, penulis bersiap dengan mengenakan pakaian dan wewangiandan berjalan menunju masjid yang berjarak sekitar 200 M dari rumah.

Belum setengah perjalanan, penulis berpapasan dengan seorang ibu muda yangsedang jalan-jalan sore sambil menyuapi anaknya”

“Aduh, tumben nih rapi banget, kayak pak ustadz. Mau ke mana, sih?” Tanyaibu muda itu.

Sekilas pertanyaan tadi biasa saja, karena memang kami saling kenal, tapiketika dikaitkan dengan ucapan Pak Ustadz di atas, menjadi sesuatu yanglain rasanya…

“Kenapa orang yang hendak pergi ke masjid dengan pakaian rapi dan memangsemestinya seperti itu dibilang “tumben”?

Kenapa justru orang yang jalan-jalan dan memberi makan anaknya di tengahjalan, di tengah kumandang adzan maghrib menjadi biasa-biasa saja?

Kenapa orang ke masjid dianggap aneh?

Orang yang pergi ke masjid akan terasa “aneh” ketika orang-orang lain justru tengah asik nonton reality show .. .

Orang ke masjid akan terasa “aneh” ketika melalui kerumunan orang-orangyang sedang ngobrol di pinggir jalan dengan suara lantang seolah meningkahi suara panggilan adzan.

Orang ke masjid terasa “aneh” ketika orang lebih sibuk mencuci motor dan mobilnya yang kotor karena kehujanan.

Ketika hal itu penulis ceritakan ke Pak Ustadz, beliau hanya tersenyum,“Kamu akan banyak menjumpai “keanehan-keanehan” lain di sekitarmu,” kata Pak Ustadz.

“Keanehan-keanehan” di sekitar kita?

Cobalah ketika kita datang ke kantor, kita lakukan shalat sunah dhuha, pasti akan nampak “aneh” di tengah orang-orang yang sibuk sarapan, bacakoran dan mengobrol.

Cobalah kita shalat dhuhur atau Ashar tepat waktu, akan terasa “aneh”,karena masjid masih kosong melompong, akan terasa aneh ditengah-tengahsebuah lingkungan dan teman yang biasa shalat di akhir waktu.

Cobalah berdzikir atau tadabur al Qur’an ba’da shalat, akan terasa aneh ditengah-tengah orang yang tidur mendengkur setelah atau sebelum shalat. Danmakin terasa aneh ketika lampu mushola/masjid harus dimatikan agar tidurnyanyaman dan tidak silau. Orang yang mau shalat malah serasa menumpang ditempat orang tidur, bukan malah sebaliknya, yang tidur itu justru menumpangdi tempat shalat. Aneh, bukan?

Cobalah hari ini shalat Jum’at lebih awal, akan terasa aneh, karena masjid masih kosong, dan baru akan terisi penuh manakala khutbah ke dua menjelangselesai.

Cobalah anda kirim artikel atau tulisan yang berisi nasehat, akan terasa aneh di tengah-tengah kiriman e-mail yang berisi humor, plesetan, asalnimbrung, atau sekedar gue, elu, gue, elu, dan test..test, testsaja.

Cobalah baca artikel atau tulisan yang berisi nasehat atau hadits, atauayat al Qur’an, pasti akan terasa aneh di tengah orang-orang yang membacaartikel-artikel lelucon, lawakan yang tak lucu, berita hot atau lainnya.

Dan masih banyak keanehan-keanehan lainnya, tapi sekali lagi jangan takutmenjadi orang “aneh” selama keanehan kita sesuai dengan tuntunan syari’atdan tata nilai serta norma yang benar.

Jangan takut dibilang “tumben” ketika kita pergi ke masjid, dengan pakaianrapi, karena itulah yang benar yang sesuai dengan al Qur’an (Al A’raf:31)

Jangan takut dikatakan “sok alim” ketika kita lakukan shalat dhuha dikantor, wong itu yang lebih baik kok, dari sekedar ngobrol ngalor-ngidultak karuan.

Jangan takut dikatakan “Sok Rajin” ketika kita shalat tepat pada waktunya, karena memang shalat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunyaterhadap orang-orang beriman.

“Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.. Kemudian apabila kamu Telahmerasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnyashalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yangberiman.” (Annisaa:103)

Jangan takut untuk shalat Jum’at/shalat berjama’ah berada di shaf terdepan, karena perintahnya pun bersegeralah. Karena di shaf terdepan itu ada kemuliaan sehingga di jaman Nabi Salallahu’alaihi wassalam para sahabatbisa bertengkar cuma gara-gara memperebutkan berada di shaf depan.

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at,maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli[1475]. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (AlJumu’ah:9)

Jangan takut kirim artikel berupa nasehat, hadits atau ayat-ayat al Qur’an,karena itu adalah sebagian dari tanggung jawab kita untuk saling menasehati, saling menyeru dalam kebenaran, dan seruan kepada kebenaranadalah sebaik-baik perkataan;

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepadaAllah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku termasu korang-orang yang menyerah diri?” (Fusshilat:33)

Jangan takut artikel kita tidak dibaca, karena memang demikianlah Allahmenciptakan ladang amal bagi kita. Kalau sekali kita menyerukan, sekalikita kirim artikel,lantas semua orang mengikuti apa yang kita serukan,lenyap donk ladang amal kita….

Kalau yang kirim e-mail humor saja, gue/elu saja, test-test saja bisa kirime-mail setiap hari, kenapa kita mesti risih dan harus berpikir ratusan atau bahkan ribuan kali untuk saling memberi nasehat. Aneh nggak, sih?

Jangan takut dikatain sok pinter, sok menggurui, atau sok tahu. Lha wong itu yang disuruh kok, “sampaikan dariku walau satu ayat” (potongan dari hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3461 dari hadits Abdullah IbnUmar).

Jangan takut baca e-mail/artikel dari siapapun, selama artikel itu berisi kebenarandan bertujuan untuk kebaikan. Kita tidak harus baca e-mail dari orang-orang terkenal, e-mail dari manager atau dari siapapun kalau isinya sekedar dan ala kadarnya saja, atau dari e-mail yang isinya asal kirim saja.

Mutiaraakan tetap jadi mutiara terlepas dari siapapun pengirimnya. Pun sampah tidak akanpernah menjadi emas, meskipun berasal dari tempat yang mewah sekali pun.

Lakukan “keanehan-keanehan” yang dituntun aqidah dan syari’at yang benar.

Kenakan jilbab dengan teguh dan sempurna, meskipun itu akan serasa anehditengah orang-orang yang berbikini dan ber ‘you can see’.

Jangan takut mengatakan perkataan yang benar (Al Qur’an & Hadist), meskipunakan terasa aneh ditengah hingar bingarnya bacaan vulgar dan tak bermoral.

Lagian kenapa kita harus takut disebut “orang aneh” atau “manusia langka”jika memang keanehan-keanehan menurut pandangan mereka justru yang akanmenyelamatkan kita?

Selamat jadi orang aneh yang bersyari’at dan berjalan di jalan yang benar…

Subhanallah ...

Wallahu A'lam bishawab ..
Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...

Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat ...

... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ...
Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....

Sumber

Renungan : JANGAN PERNAH MALU JADI ORANG 'ANEH'

Tuesday, December 11, 2012


Suatu hari dikisahkan bahwa bangsa Israel sedang dilanda paceklik. Banyak orang yang menderita kelaparan. Tidak sedikit oula yang meninggal dunia akibat musibah kelaparan itu. Akan tetapi masih ada orang kaya yang tidak merasakan musibah itu. Orang kaya tersebut memiliki seorang anak gadis yang mulia hatinya. Suatu malam, gadis itu sedang makan dan tiba-tiba datanglah seorang pengemis yang sedang berdiri di ambang pintu.

"Berilah aku aku sedekah semata-mata karena Allah, meskipun hanya sepotong roti !"

Gadis itu segera beranjak untuk menghampiri si pengemis. Kemudian dia memberikan sepotong roti kepada pengemis tersebut.

Bersamaan dengan itu, ayahnya yang jahat dan kikir pulang sehabis kerja. Lelaki tersebut mengetahui perbuatan anak gadisnya itu. Ia pun melotot dan memarahi anak gadisnya. Si pengemis segera pergi melihat hal itu.

"Bodoh ! Apakah kamu tahu bahwa banyak orang sedang kelaparan. Mereka sedang kesulitan makan sekarang. Enak saja kamu memberikan roti kepada pengemis !" Hardik ayahnya.

"Pengemis itu kesulitan mendapatkan makanan Ayah,! maka aku memberikan sepotong roti untuknya," jawab gadis itu.

"Apa ? Sepotong roti itu sangat berarti. Kamu keterlaluan !." bentak ayahnya. Lalu lelaki itu bergegas ke dapur. Di sana ia mendapatkan pisau yang tajam. Sebentar saja, lelaki itu sudah sampai di hadapan anaknya, kemudian tangan kanan anaknya dipegangnya. Tiba-tiba pergelangan tangan kanan anak gadisnya itu dipotong dengan serta merta.

Tidak lama kemudian, lelaki itu jatuh bangkrut dan semakin menurun sehingga jatuh miskin. Hutangnya menumpuk dan membebani pikirannya. Akhirnya dia jatuh sakit dan meninggal dunia. Beberapa waktu setelah itu, istrinya pun menyusul kemudian. Kini gadis itu menjadi sebatang kara.

Sementara itu, perekonomian negeriitu kembali pulih. Orang-orang yang sebelumnya miskin menjadi makmur kembali.

Akhirnya gadis itu terpaksa menjadi peminta minta demi menyambung hidupnya.

Suatu ketika, gadis itu berdiri di depan sebuah rumah yag sangat bagus. Dia berharap jika pemilik rumah kaya itu memberinya sepotong roti atau makanan apapun buat mengisi perutnya yang kosong.

Sesaat kemudian, keluarlah seorang wanita setengah baya yang menghampirinya. Tampaknya rumah besar itu hanya dihuni oleh seorang.

Wanita tersebut memandangi gadis itu dengan seksama. "Gadis itu sebenarnya cantik. Hanya saja kecantikannya tidak nampak karena tertutup pakaian lusuh dan pengaruh penderitaan hidupnya," kata wanita itu dalam hati.

Tiba-tiba wanita itu teringat akan anak lelakinya yang meninggalkan dirinya selama ini. Anaknya pergi merantau ke negeri orang dan sudah lama tidak mengirim kabar. Kemudian gadis itu diambil anak angkat olehnya. Wanita itu mempunyai rencana untuk menjodohkan dengan anak lelakinya sepulangnya nanti.

Benar juga, suatu saat anak lelakinya pulang dari rantau dan ketika melihat paras kecantikan anak gadis yang telah diangkat oleh Ibunya itu diapun langsung terpesona.

Jodoh tidak lari kemana, anak lelakinya langsung dijodohkan dengan gadis itu. Akhirnya mereka mengadakan pesta yang sangat besar dan meriah dengan mengundang kenalan yang rata-rata orang kaya dan pejabat negeri itu.

Pengantin lelaki duduk bersanding dengan pengantin wanita. Kemudian mereka makan bersama para undangan. Akan tetapi pengantin laki laki merasa kurang berkenan melihat ulah istrinya yang dianggap tidak sopan makan dengan tangan kiri."Jangan memalukan. Apakah engkau tidak bisa makan dengan tangan kanan? Para tamu ibuku adalah pejabat dan orang berpendidikan. Cobalah untuk menyesuaikan dengan mereka."

Pengantin wanita merasa serba sulit karena menyembunyikan cacatnya selam ini sehingga tidak seorangpun tahu apabila sebenarnya pergelangan tangan kanannya telah putus dipotong Ayahnya dahulu.

Namun suaminya terus mendesak. "Dimanakah tangan kananmu? demikian kata pengantin laki laki berulang kali."

Tiba-tiba terdengar suara dari luar, "Keluarkan tangan kananmu. Sungguh, engkau pernah bersedekah dengan sepotong roti secara ikhlas karena Allah. Maka tanganmu sempurna kembali seperti semula."

Pengantin wanita itu mengeluarkan tangan kanannya seperti ada dorongan dari dirinya karena suara dari luar tadi.

Apa yang terjadi? sebuah keajaiban, telapak tangan kanannya yang selama ini tidak ada lagi karena putus berubah menjadi seperti sedia kala.

Pengantin wanita itu heran atas keajaiban yang menimpa dirinya. Setelah itu dia tidak malu lagi makan bersama suaminya dan para undangan yang hadir......

Subhanallah .. memang sedekah semata karena Allah akan selalu melahirkan keajaiban hidup ... sahabat, rajinlah bersedekah hanya karena Allah semata ... insya Allah hidup kita akan penuh dengan keajaiban-keajaiban yang luar biasa ...

Sumber

Renuangan : Keajaiban Sedekah Sepotong Roti

Saturday, November 3, 2012


Satu lagi cerita tentang pelajaran hidup, janganlah melihat sebuah persoalan dari satu sisi yang pada akhirnya akan membuat kesimpulan yang terburu-buru. Dari pinggir kaca nako di antara celah kain gorden, saya melihat anak muda itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya.

Saya pernah melihat anak muda itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.

Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud anak muda yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Adhi anak saya?

Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Dwi, suami saya, ke kantor. Adhi sekolah, Anna yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Dian sudah seminggu tidak masuk.

Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.

Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?

Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.

Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.

Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.

Dan hari ini, anak muda yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang.

Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?

Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:

“Ibu yang baik…, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.

Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.

Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.

Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.

Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?

Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.

Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.

Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet.

Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.

Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu…, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.

Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu…, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.”

Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.

Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Dwi membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.

Kang Dwi dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.

Saya menolaknya meski Kang Dwi bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Dwi menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bibi Dian, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Dwi dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan.

Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Dwi dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir di mata saya. Anna menghampiri saya dan bilang, “Mama, saya bangga jadi anak Mama.” Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.

Sumber

Mencopet Demi Ibuku Yang Sakit

Thursday, November 1, 2012


Seorang pemuda sebentar lagi akan di-wisuda, sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana, akhir dari jerih payah-nya selama beberapa tahun di bangku pendidikan.

Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobilsport, Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya.

Dia yakin, karena dia anak satu-satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia yakin banget nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu. Dia pun berangan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya. Bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan ke teman-temannya.

Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke ayahnya. Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan anaknya, dan betapa dia mencintai anaknya itu. Lalu dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,... bukan sebuah kunci!

Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. dan dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Buku yang bersampulkan kulit asli, di kulit itu terukir indah namanya dengan tinta emas. Pemuda itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak, "Yah... Ayah memang sangat mencintai saya, tapi dengan semua uang ayah, ayah hanya membelikan Buku ini untukku?"

Dia membanting Buku itu lalu lari meninggalkan ayahnya. Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia berdiri mematung ditonton beribu pasang mata yang hadir saat itu.

Tahun demi tahun berlalu, sang anak telah menjadi seorang yang sukses, dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang yang terpandang. Rumahnya besar dan mewah, dan dikelilingi istri yang cantik dan anak-anak yang cerdas.

Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendirian. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa sayangnya dia pada anaknya.

Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat mendendam. Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu. Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya.

Saat melangkah masuk ke rumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal di situ. Dia merasa sangat menyesal telah bersikap jelek terhadap ayahnya. Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang dirumah itu. Dan ketika dia membuka brankas ayahnya, dia menemukan Buku itu, masih terbungkus dengan kertas yang sama beberapa tahun yang lalu.

Dengan airmata berlinang, dia lalu memungut Buku itu dan mulai membuka halamannya. Di halaman pertama Buku itu, dia membaca tulisan tangan ayahnya, "Sampai kapanpun kamu adalah anak ayah, terimakasih sudah memberikan yang terbaik buat ayah"

Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang Buku itu. Dia memungutnya, ....sebuah kunci mobil!

Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, persis sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan ! Dia membuka halaman terakhir Buku itu, dan menemukan di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. Dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu.

Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu.

Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok ke dalam bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga.

Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk di samping mobil itu, air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang tak mungkin diobati. Ayah, maafkan anakmu yah, dan terimakasih atas hadiahnya.

Sumber

Kisah Mengharukan : "Ayah Maafkan Anak mu"

Wednesday, October 24, 2012


Andre dan Sherly adalah sepasang kekasih yang serasi walaupun keduanya berasal dari keluarga yang jauh berbeda latar belakangnya. Keluarga Sherly berasal dari keluarga kaya raya dan serba berkecukupan, sedangkan keluarga Andre hanyalah keluarga seorang petani miskin yang menggantungkan kehidupannya pada tanah sewaan.

Dalam kehidupan mereka berdua, Andre sangat mencintai Sherly. Andre telah melipat 1000 buah burung kertas untuk Sherly dan Sherly kemudian menggantungkan burung-burung kertas tersebut pada kamarnya. Dalam tiap burung kertas tersebut Andre telah menuliskan harapannya kepada Sherly. Banyak sekali harapan yang telah Andre ungkapkan kepada Sherly. “Semoga kita selalu saling mengasihi satu sama lain”,”Semoga Tuhan melindungi Sherly dari bahaya”,”Semoga kita mendapatkan kehidupan yang bahagia”,dsb. Semua harapan itu telah disimbolkan dalam burung kertas yang diberikan kepada Sherly.

Suatu hari Andre melipat burung kertasnya yang ke 1001. Burung itu dilipat dengan kertas transparan sehingga kelihatan sangat berbeda dengan burung-burung kertas yang lain. Ketika memberikan burung kertas ini, Andre berkata kepada Sherly:

“Sherly, ini burung kertasku yang ke 1001. Dalam burung kertas ini aku mengharapkan adanya kejujuran dan keterbukaan antara aku dan kamu. Aku akan segera melamarmu dan kita akan segera menikah. Semoga kita dapat mencintai sampai kita menjadi kakek nenek dan sampai Tuhan memanggil kita berdua ! “

Saat mendengar Andre berkata demikian, menangislah Sherly. Ia berkata kepada Andre:

“Ndre, senang sekali aku mendengar semua itu, tetapi aku sekarang telah memutuskan untuk tidak menikah denganmu karena aku butuh uang dan kekayaan seperti kata orang tuaku!”

Saat mendengar itu Andre pun bak disambar geledek. Ia kemudian mulai marah kepada Sherly. Ia mengatai Sherly matre, orang tak berperasaan, kejam, dan sebagainya. Dan Akhirnya Andre meninggalkan Sherly menangis seorang diri.

Andre mulai terbakar semangatnya. Ia pun bertekad dalam dirinya bahwa ia harus sukses dan hidup berhasil. Sikap Sherly dijadikannya cambuk untuk maju dan maju. Dalam Sebulan usaha Andre menunjukkan hasilnya. Ia diangkat menjadi kepala cabang di mana ia bekerja dan dalam setahun ia telah diangkat menjadi manajer sebuah perusahaan yang bonafide dan tak lama kemudian ia mempunyai 50% saham dari perusahaan itu. Sekarang tak seorangpun tak kenal Andre, ia adalah bintang kesuksesan.

Suatu hari Andre pun berkeliling kota dengan mobil barunya. Tiba-tiba dilihatnya sepasang suami-istri tua tengah berjalan di dalam derasnya hujan. Suami istri itu kelihatan lusuh dan tidak terawat. Andre pun penasaran dan mendekati suami istri itu dengan mobilnya dan ia mendapati bahwa suami istri itu adalah orang tua Sherly.

Andre mulai berpikir untuk memberi pelajaran kepada kedua orang itu, tetapi hati nuraninya melarangnya sangat kuat. Andre membatalkan niatnya dan ia membuntuti kemana perginya orang tua Sherly.

Andre sangat terkejut ketika didapati orang tua Sherly memasuki sebuah makam yang dipenuhi dengan burung kertas. Ia pun semakin terkejut ketika ia mendapati foto Sherly dalam makam itu. Andre pun bergegas turun dari mobilnya dan berlari ke arah makam Sherly untuk menemui orang tua Sherly.

Orang tua Sherly pun berkata kepada Andre:

”Ndre, sekarang kami jatuh miskin. Harta kami habis untuk biaya pengobatan Sherly yang terkena kanker rahim ganas. Sherly menitipkan sebuah surat kepada kami untuk diberikan kepadamu jika kami bertemu denganmu.”

Orang tua Sherly menyerahkan sepucuk surat kumal kepada Andre.

Andre membaca surat itu.

“Ndre, maafkan aku. Aku terpaksa membohongimu. Aku terkena kanker rahim ganas yang tak mungkin disembuhkan. Aku tak mungkin mengatakan hal ini saat itu, karena jika itu aku lakukan, aku akan membuatmu jatuh dalam kehidupan sentimentil yang penuh keputus-asaan yang akan membawa hidupmu pada kehancuran. Aku tahu semua tabiatmu Ndre, karena itu aku lakukan ini. Aku mencintaimu Ndree……….. “

Setelah membaca surat itu, menangislah Andre. Ia telah berprasangka terhadap Sherly begitu kejamnya. Ia pun mulai merasakan betapa hati Sherly teriris-iris ketika ia mencemoohnya, mengatainya matre, kejam dan tak berperasaan. Ia merasakan betapa Sherly kesepian seorang diri dalam kesakitannya hingga maut menjemputnya, betapa Sherly mengharapkan kehadirannya di saat-saat penuh penderitaan itu. Tetapi ia lebih memilih untuk menganggap Sherly sebagai orang matre tak berperasan. Sherly telah berkorban untuknya agar ia tidak jatuh dalam keputusasaan dan kehancuran.

Dari Cerita Andre dan Sherly, dapat di ambil kesimpulan bahwa “Cinta bukanlah sebuah pelukan atau ciuman tetapi cinta adalah pengorbanan untuk orang yang sangat berarti bagi kita”.

Sumber

Kisah Cinta Seorang Anak Remaja

Sunday, October 7, 2012

ilustrasi (Foto: Thinkstock)

Anak Indigo Punya Kemampuan Indra Keenam Sejak Lahir Jakarta, Hanya karena sulit diterima akal sehat, kemampuan unik anak-anak indigo sering terabaikan. Kebanyakan orang sulit memahami bahwa anak indigo bisa membaca pikiran, melihat peristiwa yang belum terjadi atau bahkan mengobati penyakit.

"Yang paling terekspose adalah kemampuan interdimensional. Padahal kalau yang humanis, perikemanusiaannya tinggi, itu malah jarang (diekspose)," kata dr Tb Erwin Kusuma, SpKJ(K), psikiater anak dari RSPAD Gatot Subroto saat ditemui detikHealth, seperti ditulis Rabu (3/10/2012).

Menurut dr Erwin, secara umum ada 4 jenis kemampuan anak indigo dan kemampuan yang dimiliki anak-anak itu bisa berbeda-beda.

Keempat jenis kemampuan anak indigo yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Interdimensional
Menurut dr Erwin, kemampuan ini paling sering diekspose karena bagi kebanyakan orang sulit diterima akal sehat. Contoh kemampuan jenis ini antara lain bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk halus.

2. Humanis
Kemampuan ini berhubungan dengan perikemanusiaan, sehingga tidak terlalu kontroversial. Anak indigo dengan kemampuan ini memiliki cara yang unik dalam berkomunikasi dengan manusia lain serta bisa lebih peka terhadap perasaan orang lain.

2. Konseptualis
Anak indigo yang memiliki kemampuan ini sering memiliki konsep atau pemikiran yang sulit dipahami oleh orang lain.

4. Artis
Jenis kemampuan anak indigo yang satu ini menonjol di bidang seni. Karya seni yang dihasilkan anak indigo dengan kemampuan ini cenderung bernuansa spiritual, misalnya puisi yang banyak berbicara tentang roh.

Terkait kemampuan interdimensional, dr Erwin mencontohkan salah satu kelebihan anak indigo yang disebut clairvoyance. Berasal dari Bahasa Prancis, kemampuan ini berarti bisa melihat peristiwa di tempat lain yang terjadi pada waktu yang bersamaan.

Ada juga kemampuan pre-cognition, yakni melihat peristiwa yang belum terjadi di suatu tempat. Sebaliknya adalah post-cognition atau sering disebut juga retro-cognition atau melihat peristiwa yang terjadi pada masa lalu, di suatu tempat yang beru pertama kali dikunjungi.

Anak indigo pada umumnya juga cerdas secara intelektual, sehingga seringkali lebih cepat dari yang lain dalam menyelesaikan tugas di sekolahnya. Akibatnya ia punya lebih banyak waktu luang, lalu berkegiatan sendiri dan akhirnya dikira hiperaktif.

"Padahal keduanya sama sekali berbeda, hiperaktif itu gerakannya cenderung tidak terkoordinir sehingga mudah jatuh dan sebagainya. Kalau indigo, itu hanya karena sudah selesai saja pekerjaannya," tambah dr Erwin.

dr Erwin menuturkan kebanyakan anak indigo bisa melihat sesuatu yang belum terjadi atau mampu melihat makhluk halus yang tidak bisa dilihat oleh mata. Kemampuan spiritual ini masuk dalam wilayah ESP (Extra Sensory Perception).

"Memang anak bayi kebanyakan memiliki kemampuan melihat makhluk gaib. Tapi seiring bertambahnya umur, kemampuan tersebut akan menghilang. Namun pada anak indigo kemampuannya ini tidak dapat hilang," ujar dr Erwin.

Pada anak-anak, hilangnya kemampuan merasakan makhluk gaib karena dalam perkembangannya ia banyak mempelajari matematika dan ilmu pengetahuan lain, sedangkan pada anak indigo karena ia memiliki kemampuan ESP, yaitu kemampuan yang melebihi persepsi indrawi yang dimiliki manusia.

Lebih lanjut dr Erwin menjelaskan dulu kebudayaan timur selalu mengajarkan untuk melakukan samadi dan meditasi untuk mengasah hal-hal seperti indra keenam. Namun sebenarnya indigo adalah sifat yang dilahirkan dan tidak dapat dipelajari, serta kemampuan yang dimilikinya ini juga tidak dapat dilatih.

Secara umum, indra keenam atau ESP ini dapat dibedakan menjadi 4 kategori yaitu:

1. Telepati yaitu kemampuan melakukan transfer pemikiran kepada orang lain (mind to mind communication) tanpa harus mengenal batasan ruang.

2. Clairvoyance yaitu kemampuan untuk merasakan dan medengar peristiwa-peristiwa di masa lalu atau yang sudah pernah terjadi.

3. Precognition yaitu kemampuan mengetahui peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang atau belum terjadi.

4. Psychokinetik yaitu kemampuan mempengaruhi suatu peristiwa yang terjadi hanya dengan menggunakan pikirannya saja.

Sumber

Inilah 4 Kemampuan Unik dari Anak Indigo

Saturday, October 6, 2012

Tanda mata para pemain yang gagal melangkah menjadi skuad Jepang U-16, yang jadi cenderamata keberuntungan bagi tim tersebut. Jepang akan menghadapi Uzbekistan di final Piala Asia U-16 2012 di Teheran, Iran, Sabtu (6/10/2012)

Banyak cara ditempuh orang untuk menggali inspirasi menuju tangga kesuksesan. Apa yang dilakukan tim nasional sepak bola Jepang di bawah usia 16 tahun (U-16) di Piala Asia U-16 tahun 2012 ini mungkin terbilang lain dari yang lain. Percaya ada faktor keberuntungan dalam sepak bola, mereka melengkapi bekal teknik sepak bola mereka dengan ritual unik.

Yang pasti, Jepang saat ini lolos ke babak final di Teheran, Iran. Di partai puncak, tim yunior "Negeri Sakura" akan berhadapan dengan Uzbekistan, Sabtu (6/10/2012) besok.

Seperti dilansir situs resmi Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), sukses pemain Jepang yunior itu diinspirasi rekan-rekan mereka yang gagal masuk skuad timnas dan berangkat ke Teheran. Timnas Jepang U-16, yang berkekuatan 23 pemain, saat ini merupakan hasil seleksi dari total 150 pemain dari 47 prefecture (semacam karesidenan).

Ke-150 pemain itu dipanggil untuk mengikuti seleksi di kamp pemusatan latihan, sekitar dua tahun lalu. Awalnya mereka dikerucutkan menjadi 100 pemain, lalu diseleksi lagi hingga 50 pemain dan akhirnya keluarlah hasil final yang jadi skuad timnas Jepang U-16.

Ke-127 pemain yang gagal masuk skuad inti itu menitipkan suvenir semacam gantungan kunci kecil kepada 23 pemain yang bertanding di Teheran. Cenderamata itu jadi tanda perwakilan prefecture mereka, sekaligus diyakini membawa keberuntungan.

Menurut administratur tim Jepang, Tomokazu Ikebe, para pemain yunior "Negeri Matahari Terbit" itu merasa suvenir-suvenir tersebut mendatangkan keberuntungan bagi mereka. Itu sebabnya, kumpulan suvenir tersebut digantungkan di bangku cadangan setiap kali bertanding.

Selain itu, di ruang ganti Jepang juga dipajang spanduk besar bertuliskan "harmoni" dan "persahabatan". Di tembok ruang ganti itu pula dipampangkan bendera Jepang bertuliskan nama 150 pemain yang mengikuti seleksi awal.

Tim yunior Jepang juga membuat tempat peribadahan kecil di ruang ganti. Semua pemain dan ofisial tim selalu berdoa di tempat itu setiap menjelang kick-off.

"Kami percaya, di samping kerja keras, orang butuh sedikit keberuntungan dalam sepak bola dan para pemain merasa bahwa keberuntungan pada suvenir pemberian rekan-rekan mereka itu bakal membantu merebut trofi juara," papar Ikebe.

Sebelum mencapai final, perjalanan tim Jepang bukannya tanpa ganjalan. Di penyisihan grup, setelah memukul Arab Saudi 2-0, mereka ditundukkan Korea Selatan 1-3. Jepang lolos ke perempat final sebagai runner-up grup setelah menaklukkan Korea Utara 3-0 pada laga terakhir penyisihan grup.

Di perempat final, mereka memukul Suriah 2-1. Dan dengan pemain starter yang sama sekali berbeda dengan saat tampil di perempat final, Jepang menggilas Irak 5-1 di semifinal. Di level U-16, Jepang sudah dua kali juara Asia dan kini mereka membidik gelar untuk ketiga kalinya.

"Kami telah mencapai target pertama, yakni lolos ke Piala Dunia (U-17), dan kini pemain mengarahkan bidikan pada trofi juara," kata Ikebe.

Sumber

Rahasia Sukses Sepakbola Jepang: Tak Pernah Lupakan yang Gagal

Tuesday, September 25, 2012


Wartawan Waspada Aidi Yursal saat dilantik dan menerima ijazah sarjana negara Rektor Ir. Pantas Semanjuntak, MM dan Dekan Fakultas Sastra Ingris Drs. Himpun Panggabean, M.Hum pada acara Wisuda Universitas Methodist Indonesia (UMI) Medan 28 Juli lalu diConvention Hall Hotel Danau Toba International Medan. Acara pelantikan dan penyerahan ijazah negara itu juga disaksikan langsung Koordinator Kopertis Wilayah I Sumut-Aceh Prof.ir.H.M.Nawawiy Loebis, M.Phil;, P.hD ( Berita Sore/ist )

Medan ( Berita ) : Meliput berbagai berita peristiwa bencana alam ataupun konflik dan perang yang berkobar di dalam dan luar negeri, atau mencari nara sumber sampai melibatkan diplomat asing untuk diwawancarai, jelas tak perlu diragukan bagaimana kecekatan seorang wartawan profesional di lapangan.

Rupanya tak jauh beda yang diperagakan seorang wartawan dalam meraih sukses di dunia pendidikan tinggi. Tanpa mau menyerah setapak pun meski sudah bagaikan termakan usia, perjuangan panjang hampir tiga puluh tahun, hanya untuk mendapat secarik kertas ijazah sarjana negara dari perguruan tinggi Universitas Methodist Indonesia (UMI), itulah yang dibuktikan oleh sosok seorang wartawan Harian Waspada bernama Aidi Yursal.

Sebagai seorang pria kelahiran Silabuk, Parambahan, Kabupatan Tanah Datar, (Batusangkar), Sumatera Barat pada 58 tahun silam, Yursal yang dalam kerap disapa “Song”, dan Aye (k) atau Aidi di kalangan insan pers, mengaku memulai karir wartawan di Harian Waspada pada akhir tahun 1983, setelah lima tahun lebih mengabdi di bidang perhotelan di Hotel Danau Toba International Medan.

“Saya hengkang dari dunia perhotelan dan memutuskan untuk bekerja di perusahaan pers sebagai wartawan, walau waktu itu ada tawaran dari perusahaan gas PT.ARUN Lhokseumawe dan perusahaan minyak asing di Provinsi Riau,”katanya, mengenang masa-masa lajang setelah menyelesaikan pendidikan tinggi di Fakultas Sastra Inggris, UMI Medan. Namun waktu itu belum mendapatkan sarjana dan ijazah negara yang didambakan sampai-sampai menjadi ajang perburuan dalam hidupnya selama hampir tiga dekade.

Dia juga mengenang masa remaja yang sempat berbagi hati dan waktu antara sekolah (PGAN 4/6 Tahun) sekitar tahun 1970-an dan mengelola lahan peninggalan almarhum ayahnya Rasyiddin Bilal Sampono dan almarhumah Hj. Upik Putih dengan ditanami tanaman keras jenis cengkeh. “Kalau tidak dikarenakan kuatnya tuntutan terhadap ilmu pengetahuan untuk berkuliah di perguruan tinggi, khususnya pada jurusan bahasa asing atau bahasa Inggris, saya itu sudah terjun sebagai petani cengkeh benaran di kampung saya di Sumbar, walau akhirnya tanaman cengkeh milik saya yang sudah sempat panen beberapa tahun, mati akibat tidak terawat bersama pohon cengkeh milik para petani lain di berbagai daerah di Indonesia, yang dituding sebagai “dosa besar” Tommy Soeharto yang tidak memperbolehkan hasil panen cengkeh rakyat dijual ke pasar bebas kecuali ke KUD, sementara KUD itu sendiri tidak punya dana.

Ketika ditanya kenapa tak langsung ikut ujian negara waktu itu setelah mendapatkan ijazah lokal dengan gelar (Drs) di fakultas Sastra inggris, UMI Medan, Yursal yang pernah memegang berbagai jabatan di Harian Waspada, antara lain Sekretaris Redaksi, Kepala Personalia, Kepala Promosi Iklan, Litbang dan Humas, Redaktur Ekonomi, Wakil Redaktur Luar Negeri dan lainnya, mengaku kondisi pelaksanaan dan pengawasan perguruan tinggi swasta di Indonesia pada era Orde Baru , termasuk di Sumatra Utara, tidak seperti sekarang ini di era reformasi.

Pada era reformasi ini, menurut Yursal, pemerintah Indonesia melalui Menteri Pendidikan Nasional telah memberikan wewenang penuh dalam bentuk otonomi kepada masing-masing perguruan tinggi dan universitas swasta yang disahkan melalui hasil evaluasi Akreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN)-Perguruna Tinggi (PT) yang berada di bawah Mendiknas RI.

Sementara sebelum era reformasi, umumnya perguruan tinggi swasta harus mengirim lulusan (sarjana) lokal untuk kembali diuji di Kopertis, lembaga perpanjangan tangan pemerintah, guna mendapat ijazah sarjana negara. Waktu itu perbedaan perguruan tinggi swasta dan negeri sangat kental, namun sekarang dibedakan oleh status akreditasi yang dikeluarkan pemerintah.

Yang sangat menyulitkan dan malah tidak salah jika disebut cukup merugikan kalangan mahasiswa, terutama kalangan lulusan perguruan tinggi swasta, tanpa kecuali di Fakultas Sastra Inggris, UMI, menurut Aidi, adalah seperti ada kesan tertutup untuk diketahui, baik sewaktu mendaftar maupun saat mengikuti perkulihan, apakah mahasiswa itu sudah didaftarkan oleh pihak Universitas ke Kopertis (Koordinator Perguruan Tinggi Swasta) atau belum. Lagi pula waktu era sebelum tahun 1980-an itu, kantor Kopertis Wilayah Sumut-Aceh tidak jelas karena bergabung dengan USU, dan bukan seperti sekarang ini sudah punya bangunan khusus sebagai kantornya.

“Jadi di situ persoalan pertama kenapa saya dan mungkin rekan lain dari fakultas yang sama atau pergurun tinggi lain tidak bisa atau sangat sulit mengikuti dan memperoleh ijazah sarjana yang diakui negara waktu itu,” kata Yursal yang mengaku sebagai wartawan Indonesia pertama yang berhasil masuk kubu pertahanan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) bersama wartawan asing dari Harian Asahi Shimbun, Jepang, pasca tergulingnya Presiden Soeharto tahun 1998, dan mulai bergulir era reformasi. Dia juga tercatat sebagai satu-satunya wartawan Indonesia dari Harian Waspada yang berhasil menjalin hubungan komunikasi selama hampir tiga tahun dengan pihak GAM (Ismailsyah Putra) sehingga bisa selalu mengkorfimasi berita kerusuhan dan aksi kontak senjata tembak-menembak di Aceh pad waktu itu.

Kalau dihitung-hitung, perjuangan panjang hampir 30 tahun baru mendapatkan ijazah dan gelar sarjana negara, tidak akan mungkin bisa dilakukan oleh semua orang walau dengan tingkat dan bentuk permasalahan yang sama yang dalam hal ini perjuangan mendapatkan ijazah negara.

“Bagi saya pengalaman sebagai seorang wartwan dalam meliput berbagai kejadian dan peristiwa, termasuk sewaktu peliputan penarikan pasukan Vietnam dari Kamboja sekitar tahun 1989 yang nyaris ditangkap pasukan pemelihara keamanan dari pasukan gabungan PBB, juga ikut memotivasi diri saya untuk mampu mengerjakan tugas-tugas berat lainnya di luar tugas jurnalistik, seperti halnya perjuangan untuk diri peribadi saya mendapatkan ijazah dan sarjana negara,” kata wartawan senior yang sering mengadakan liputan bersama dengan wartawan asing asal Amerika dan Eropa serta pernah jadi kontributor majalah terbitan Hongkong “Far Eastern Economic Review, perwakilan Medan, sudah banyak melakukan perjalanan jurnalistik ke berbagai negara, termasuk ikut dalam program pertukaran wartawan negara-negara Asean, meliput seminar ahli kandungan Internasional yang diikuti 78 negara di Singapura, menghadiri undangan dari pemerintah India.

Dia sendiri mengakui ijazah sarjana negara yang diperolehnya bukan serta merta diraih tanpa proses. Dengan izin Kopertis Wilayah I Sumut-Aceh, dia harus kembali mengikuti kuliah untuk mata kuliah tertentu dan kemudian mengkonversi thesisnya yang berjudul ; “Word Formation In The Bahasa Minangkabau As Observed From The Bahasa Indonesia’s Morphological Point of View” untuk diuji dalam suatu sidang Green Table Exam oleh dua Guru Besar dari pakar Bahasa Inggris masing-masing Prof.Drs.DM.Aruan dan Prof.Dr.M.Silitonga bersama dekan Fakultas Sastra Inggris, UMI Medan, Drs.Himpun Panggabean, M.Hum dan Drs.Sependi Napitupulu, M.Hum yang berhasil lulus dengan nilai baik.

Sementara acara wisuda berlangsung 28 Juli 2012 lalu di Convention Hatel Danau Toba Jl.Imam Bonjol Medan bersama 553 lulusan lain dari fakultas Kedokteran, Ekonomi, Pertanian dan lainnya di UMI Medan dengan hadiri langsung Koordinator Kopertis Wilayah I Sumut-Aceh Prof.Ir.H.M.Nawawiy Loebis, M.phil, P.hD dan pemakaian toga dan penyerahan ijazah oleh Rektor UMI Ir.Pantas Simanjutak,MM.

“Kini saya lebih percaya diri lagi karena apa yang saya impikan dan perjuangkan selama hampir 30, Alhamdulillah sudah berhasil terwujud,” katanya dengan mengaku ijazah sarjana negara yang sudah diperoleh itu bagaikan melebihi dari segala-galanya.

Saking penting dan berharganya ijazah tersebut, Aidi sempat berandai-andai. “Kalau ada pihak yang menawarkan dua pilihan, dianugerahi ijazah negara atau menerima hadiah satu miliar rupiah umpamanya, kalau tidak boleh ambil dua-duanya, saya tetap akan pilih ijazah negara,” kata wartawan yang sudah meraih gelar Doktor honoris causa (HC) dari Science Homeo Institute for Asean Countries, Malaysia tahun 2002, dan juga telah dianugerahi Marga Sinambela saat peresmian tugu Raja Si Oloan di Bakkara, tepi kawasan Danau Toba, sekitar tahun 1989.

Sebagai wartawan senior yang pernah menjadi pengurus PWI Cabang Sumut dan sebagai wartawan yang memiliki kartu dan sertifikat Kompetensi Wartawan setelah lalus ujian kompetensi awal Januari lalu dari Dewan Pers Indonesia, dirinya mengaku lega , karena tidak khawatir ada ganjalan dalam soal ijazah sarjana jika ada niat mengembangkan karir atau profesi, termasuk juga andaikata mau mencalonkan diri untuk jadi anggota legislatif RI, jadi calon Bupati, Wali Kota atau Gubernur, atau mungkin saja ada ditawarkan jabatan Dubes nanti, ya kita tidak lagi bermasalah dengan ijazah dan kesarjanaan kita.

Karena dalam pengamatannya, permasalahan sah atau tidaknya ijazah saat ini sangat sensitif karena sering dijadikan oleh pihak lain untuk menghabisi seorang calon yang hendak maju.

Kunci dalam meraih sukses itu seperti halnya dalam berburu mendapatkan ijazah sarjana negara, menurut Yusral, adalah perjuangan keras sepenuh hati (sungguh-sungguh) dan ikhlas yang terprogram disertai sambil tetap berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa kapan dan di mana saja tanpa henti. “Keberhasilan meraih impian yang nyaris hilang karena termakan waktu dan usia, bukan berarti selesailah perjuangan saya semuanya. Kalau ini sudah selesai, perjuangan lain sudah menunggu pula,” katanya dengan menyebutkan perjuangan ini tidak boleh berhenti demi untuk perubahan hidup dan kehidupan yang lebih baik ke depan.

Sumber

Perjuangan Panjang Seorang Wartawan Meraih Gelar Sarjana Negara